Minggu, 16 September 2018

Al-ummu madrosatul uula

“A mother is the first and the best role model for her children. And home is the best place to learn the lessons of life.” 

Setiap perempuan adalah guru dan pengajar. Paling tidak, guru dan pengajar bagi anaknya sendiri. Sehebat-hebatnya guru di luar sana, tak ada guru sehebat ibu yang selalu mengajar dan mendidik anaknya hampir 24 jam. Karena pelajaran kehidupan itu bukan hanya membaca atau berhitung. Ada pelajaran yang jauh lebih penting dari itu..

Mengenal Rabbnya.. mengenal nabinya.. mengenal agamanya.. Bagaimana berakhlak mulia, bagaimana beraqidah yang lurus. Mengenalkannya pada kehidupan, mengenalkan apa itu cinta dan rasa empati.. Tidak hanya sekadar teori, tapi mengajarkan semuanya dalam bentuk nyata, dalam segala tindak keseharian. Mereka, anak-anak, belajar semua langsung dari guru pertama dan utama, yaitu ibu mereka. Mereka belajar lewat apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Mereka belajar dari apa yang ibu ucapkan dan lakukan.
Ibu adalah madrasah pertama dalam sebuah keluarga. 
Dia yang akan mengajarkan pendidikan agama pertama kali pada anak-anaknya. Lantas akan jadi apa anaknya, jika ibunya-yang menjadi madrasah pertama, tidak bisa mengajarkan kebaikan kepada anaknya.

“The attitude you have as a parent is what your kids will learn from more than what you tell them. They don’t remember what you try to teach them. They remember what you are.” 

Dulu ketika aku belum menyadari ini, aku punya banyak sekali mimpi. Aku ingin mengejar karir sebagai perawat profesional kamar bedah. Selain banyak uang, banyak pengalaman yang mungkin bisa aku dapatkan. Tapi seiring beranjak dewasa, aku mulai mengerti bahwa uang bukanlah segalanya. Mungkin di masa depan aku akan melepas karirku demi fokus pada keluargaku, suami dan anak-anakku. Berat memang menanggalkan semua mimpi-mimpiku, namun tak apa itu memang lebih baik

Baktiku pada suami dan anakku bernilai surga daripada aku mempertahankan diri menjadi wanita karir meski sudah berkeluarga. Aku akan memilih menjadi ibu rumah tangga yang menjamin keperluan rumah terpenuhi. Aku ingin suamiku memakan masakanku setiap hari. Lalu bagaimana kerepotannya aku ketika si sulung cemburu pada adiknya. Bagaimana otak berputar ketika harus masak apa hari ini. Lalu surga terasa lebih dekat ketika kucium punggung tangan suamiku.
Ternyata berkarir tak menjamin hidupku lebih baik. Selain aku melalaikan rumah tangga, bahagia menjadi wanita karir tak sepenuhnya didapat. Semua bernilai satu di dibandingkan mengurus rumah tangga yang bernilai lima. Berkarir juga melelahkan. Meski menjadi ibu rumah tangga pun melelahkan tapi ada nilai ibadah di dalamnya.
Ya pada akhirnya kelak, aku lebih ingin menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku daripada berkarir meninggalkan keluargaku (kelak).
“Setinggi-tingginya pendidikan seorang perempuan, tempatnya adalah di rumah. Sepintar apapun, secantik apapun, sehebat apapun karirnya, perempuan yang baik adalah yang terus belajar untuk menjadikan rumahnya tempat ternyaman bagi suami dan anak-anaknya. Seorang ibu, dengan segala kecakapan memasak, menjahit, mengurus rumah, mengatur keuangan, mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya seperti apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, adalah teladan utama bagi sang anak. Hingga sejauh apapun suami dan anak-anak pergi, rumah dengan segala kehangatannya adalah tempat kembali yang paling mereka rindukan..” 

Bismillah semoga segala niat baikku kelak dimudahkan oleh Allah aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar