Ketika teman teman seumuran sudah banyak yang menikah, banyak orang (termasuk saya) mengeluhkan omongan orang lain yang nyinyir atau mencemooh sebab kita belum menikah di usia segini (26 ke atas lah, yang di bawah itu jangan ikutan galau). Ketika belum mengerti, buat saya dulu hal ini salah satu hal paling menyebalkan dalam hidup. Beberapa orang menilai ini ujian besar.
Setelah sedikit mengerti, meski omongan orang lain tetap menyakitkan, ternyata ini bukan ujian besar. Ujian besar, dan terbesar, adalah ujian tawakkal dan husnudzon pada Allah. Juga ujian keimanan agar tetap berada di jalan yang benar, dalam hal ini mungkin saya belum baik.
Berapa kali kita mengeluh, sudah berusaha dan muhasabah tapi selalu gagal menikah? Berapa kali kita mulai putus asa dan mengatakan mana ada yang mau sama kita? Semoga keluhan kita hanya berupa noktah untuk mempermanis ujian. Jangan sampai keluhan itu berjalan lebih dalam, menjadi hal yang melemahkan keyakinan kita bahwa setiap takdir Allah pasti baik. Pasti baik!
Ujian terberat dari setiap ujian (bukan hanya terlambat menikah, tapi juga sakit, kesulitan keuangan, musibah) adalah ketika harus bergelut dengan diri sendiri tentang apakah harus berbaik sangka atau berburuk sangka pada Allah Yang Menetapkan Segala Sesuatu.
Mungkin orang lain akan berkata, “barangkali kamu punya dosa yang harus ditebus di dunia.” Tidak perlu diberitahu, saya (mungkin kita?) sudah lebih tahu daripada orang lain. Kadang - kadang, perasaan berdosa itu menjadikan saya berburuk sangka bahwa Allah membenci saya.
Lama kelamaan, saya berbaik hati pada diri sendiri, belajar menerima bahwa ujian juga diberikan pada orang - orang yang sudah meminta ampun. Itu ujian, sesederhana itu. Kadang-kadang kita juga perlu berbaik sangka pada diri sendiri, untuk memperingan perjalanan yang beratnya sudah tak terkirakan. Untuk mempertahankan baik sangka pada Allah, bahwa Dia hanya ingin kita belajar bersabar dan bertahan.
Akhirnya, semalam, sekilas saja, saya tidak berani lama-lama. Saya bersyukur bahwa Allah memberikan ujian pada saya yang ketika saya telusuri, semuanya sedang memperbaiki sifat-sifat buruk saya. Pemarah, diuji dengan nyinyiran orang lain sehingga saya belajar menahan diri untuk tidak balik menyakiti meski sudah berniat jahat dalam hati. Buru - buru, diuji dengan lamanya penantian agar saya belajar sabar menunggu. Kurang bersyukur, diuji dengan banyak takdir yang meleset dengan rencana agar saya belajar mengambil hikmah kemudian belajar ridho pada ketetapan-Nya. Sombong, diuji dengan didahului banyak orang lain agar saya belajar rendah hati. Buruk sangka, ditunjukkan dengan kebaikan - kebaikan yang banyak sekali berada di sekitar saya sehingga saya tahu Allah tetap sayang. Allah selalu sayang, dengan ujian dan segala kemudahan yang Dia berikan.
Sungguh, ujian terberat dari sebuah musibah adalah bagaimana mempertahankan tawakkal dan baik sangka pada Yang Menetapkan Musibah. Semoga segala kesulitan menjadi besi yang menempa hati kita semakin kuat, semakin tawakkal, semakin bertauhid, semakin lapang dada, semakin menikmati setiap takdir, semakin mudah bahagia, semakin bersabar menghadapi orang lain yang tak peduli pada hati kita yang sedang diuji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar