Rabu, 05 Desember 2018

Islam dan Pandangan terhadap Kelamnya Masa Lalu

Tulisan ini saya ambil dari situs dakwahbersama.net, sebuah tulisan yang membuat saya sangat kagum. Penulisnya adalah Ahmad Fauzan 'Adziima. Saya ingin kalian juga membaca nya. Dan untuk pengingat diri saya ketika saya sedang terserang futur.

Islam dan Pandangan terhadap Kelamnya Masa Lalu

Jika kita mendengar kata taat, patuh, selalu bertakwa dan terus beribadah kepada Allah, tak pernah ingkar kepada-Nya, kepada siapakah kata-kata tersebut pantas dialamatkan? Semua sepakat dengan menjawab: malaikat. Kemudian ketika kita mendengar kata ingkar, sesat, sombong, dan durhaka kepada Allah, maka kepada siapakah sifat-sifat itu pantas dialamatkan? Ya, tentu jawabannya adalah iblis. Lalu ketika kita mendengar kata, ahli ibadah, ahli maksiat, kadang patuh, kadang ingkar, kadang taat, kadang lupa kepada Allah, maka kepada siapakah sifat tersebut pantas dialamatkan? Adakah jawaban lain selain manusia?

Manusia memang makhluk yang ajaib. Dia bisa menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat, namun bisa juga menjadi makhluk yang lebih biadab daripada binatang sekalipun. Semua bergantung pada hati dan akal yang telah Allah anugerahkan kepada manusia. Tatkala manusia itu mampu mengalahkan hawa nafsunya untuk memilih lebih taat kepada Allah, maka derajatnya akan lebih tinggi daripada malaikat. Namun jika ia lebih mengedepankan dan selalu menuruti hawa nafsunya, maka ia bisa saja menjadi orang yang lebih kejam dari binatang. Naudzubillah min dzalik. Betapa banyak kita lihat, bahwa seorang ibu tega membuang anak kandungnya sendiri, seorang bapak memerkosa anaknya sendiri, yang bahkan tak kan pernah kita jumpai induk singa memakan anaknya sendiri sekalipun ia sedang kelaparan bukan?

Memang kehidupan ini adalah ujian. Tak bisa dipungkiri bahwa dahsyatnya fitnah dunia ini telah banyak menyeret dan menipu kebanyakan manusia kepada hal-hal yang telah dilarang oleh Allah Ta’ala. Banyak yang mengaku bahwa dia melakukan ini itu karena terdesak ekonomi, atau karena tergiur kenikmatan semu nan sesaat. Dia masih mengakui dalam sanubarinya bahwa perbuatan-perbuatan tersebut adalah terlarang. Artinya, masih ada iman di dalam hatinya. Hatinya ingin berontak, namun apalah daya realita seakan tak mendukungnya ditambah dengan godaan setan yang tak kuat ditahannya.

Saudaraku, marilah kita lihat kejadian seperti ini dengan mata hati yang tenang. Sebagai seorang yang beriman, janganlah kita melihat para pelaku maksiat itu dengan tatapan dan pandangan sinis, apalagi sampai mengatakan celaan, “dasar ahli maksiat!” . Sungguh ini bukanlah sikap seorang beriman.

Hendaklah kita memandang seorang pelaku maksiat itu dengan mata hati yang penuh kasih sayang. Entah kepada seorang pemabuk, pemain judi bahkan pelaku zina sekalipun, janganlah kita memandang mereka dengan mata merendahkan atau meremehkan karena bisa saja Allah mengubah keadaan itu, dia di posisi kita dan kita di posisi dia. Sebab, semua kemungkinan masihlah belum final sampai akhirnya sakaratul maut itu menjemput manusia.


Kita diperintahkan untuk senantiasa berharap dan mendoakan kebaikan kepada saudara-saudara sesama muslim. Maka tatkala melihat saudara kita melakukan maksiat, pandanglah ia dengan tatapan iba dan kasih sayang. Janganlah mencelanya, janganlah merasa engkau lebih baik darinya karena engkau di jalan hidayah sementara ia di jalan setan. Tapi terenyuh dan ibalah engkau terhadap perilaku maksiatnya seraya berdoa, “Ya Allah ampunilah ia. Sesungguhnya perilaku buruknya itu akan menjadi sebab datangnya kemurkaan-Mu kepadanya. Berilah ia kesadaran agar ia terhindar dari siksa neraka-Mu.”

Pandanglah mereka pelaku maksiat dengan dengan hati yang bersih. Sebagaimana tatkala kita melihat seseorang yang terkena musibah kecelakaan kemudian tubuhnya bersimbah darah lalu kita kasihan dan terenyuh melihatnya. Inilah sikap mukmin yang memiliki hati yang bersih. Sementara, bagaimana bisa kita tidak merasa kasihan kepada seorang pelaku maksiat yang dengan kemaksiatannya itu akan membawanya ke neraka?

Betapa banyak kisah-kisah orang terdahulu yang menjadi pelaku maksiat terlebih dulu sebelum menjadi seorang yang mulia? Tidakkah kita ingat Amirul Mukminin Umar bin Khatab adalah seorang yang bengis dan memusuhi Islam sebelum akhirnya Allah angkat derajatnya menjadi sahabat yang sangat mulia? Bukankah sebelumnya Khalid bin Al Walid merupakan musuh nomor satu Islam namun kemudian Allah berikan hidayah hingga akhir hayatnya wafat bersama kemuliaan?

Saudaraku, setiap orang pastilah punya masa lalu yang kelam dan pernah melakukan kemaksiatan. Memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun betapa beruntung kita sebagai seorang muslim. Islam tak pernah memandang masa lalu. Islam lebih memandang yang akhir daripada yang awal. Tak perlu risau seburuk apapun diri kita di waktu lampau. Tak perlu gundah tatkala kita teringat akan kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Cukuplah gunakan masa lalu sebagai pelajaran dan sejarah hidup yang tak perlu disesali. Tidak ada kata penyesalan dalam kamus seorang muslim, yang ada adalah taubat dan pembelajaran.

Yakinlah bahwa rahmat Allah akan senantiasa menaungi orang-orang yang bertakwa. Dan satu hal yang terpenting, janganlah menyibukkan diri dengan mencela dan menghina, akan tetapi renungilah, sudahkah kita membenahi diri untuk mempersiapkan akhir terindah dalam kehidupan kita untuk bersiap menjemput kepastian takdir yang akan datang dari-Nya?

Wallahu a’lam bish showwab

Selasa, 02 Oktober 2018

Milik Allah

"Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi..” - (Al-Baqarah: 284)

Begitu baca ayat diatas saya jadi kepikiran. Bener banget ternyata saya gak punya apa apa bahkan dalam bentuk yang kecil sekalipun. Semua ini punya Allah. Mata hidung mulut dan seluruh anggota tubuh saya, Uang, hape yang lagi saya pake, baju khimar yang ada lemari, rumah-rumah kalian, mobil-mobil yang berkeliaran di jalan, emas-emas yang dipajang di toko-toko, uang-uang di Bank, gedung-gedung pencakar langit di seluruh dunia, bumi dan segala isinya, bintang-bintang, matahari, diri saya, diri kamu pun semuanya punya Allah.

Harta yang kita nikmati sesungguhnya hanya harta Allah yang Allah putarkan diantara makhluk-makhluknya. Kita cuma perantara. Uang yang saya pake makan, itu punya Allah, yang Allah edarkan ke saya supaya bisa makan, terus Allah edarkan lagi ke warung nasi padang supaya Uda dan Uni-nya bisa hidup, terus Allah edarkan lagi ke tukang sayur di pasar, terus Allah edarkan lagi ke petani, terus Allah edarkan lagi ke tukang pupuk (kandang), terus Allah edarkan lagi ke peternak, terus Allah edarkan lagi ke tukang potong rumput (buat makanan sapi), daaan seterusnya.

Harta kita cuma titipan. Kita juga perantara. Harta itu cuma numpang di kita sebentar, untuk nanti Allah edarkan lagi ke manusia lainnya. Inget, dulu kita lahir gak bawa apa-apa. Kita ga mengadakan/menciptakan harta kita sendiri. Kita cuma bekerja (atau orang tua kita) terus Allah nilai kita layak dilewatin titipan harta itu atas usaha kita, supaya kita bisa meneruskan kehidupan, berinfaq, meringankan beban orang lain, dll.

Inget kata Aa Gym, tukang parkir itu orang kaya banget. Punya mobil/motor banyaaaak! Tapi engga pernah sombong. Kalo mobilnya diambil pun, dia melepasnya dengan ringan. Ga stress, nangis-nangis, jerit-jeritan, pingsan, dll. Begitu juga seharusnya kita kan? Kita sebenernya engga punya apa-apa. Tiba-tiba aja kita didatengin harta. Terus kalo yang punyanya, Allah, mau ngambil, ya boleh doong?

Tenang ajalah, yakin, kamu engga akan mati kelaparan karena Allah ga ngasih rizki. Jangan lieur (pusing-pusing) mikirin harta yang kian berkurang, lieur-lah sama polah kita yang boros, ga bisa me-manage­ harta dengan baik, ga teliti, dsb. Lieur-lah sama harta kita yang engga berdaya guna, cuma buat muasin perut doang.

Fiuuuuh.. Lega..

Ini bukan hal baru, saya cuma pengen ngelampiasin sesuatu di dalem sini aja. Semoga bisa jadi pengingat, buat saya sih terutama.

Astagfirullahal ‘adzhim..

Alhamdulillahirabbil 'alamin..

Wallahu 'alam.

Minggu, 16 September 2018

Al-ummu madrosatul uula

“A mother is the first and the best role model for her children. And home is the best place to learn the lessons of life.” 

Setiap perempuan adalah guru dan pengajar. Paling tidak, guru dan pengajar bagi anaknya sendiri. Sehebat-hebatnya guru di luar sana, tak ada guru sehebat ibu yang selalu mengajar dan mendidik anaknya hampir 24 jam. Karena pelajaran kehidupan itu bukan hanya membaca atau berhitung. Ada pelajaran yang jauh lebih penting dari itu..

Mengenal Rabbnya.. mengenal nabinya.. mengenal agamanya.. Bagaimana berakhlak mulia, bagaimana beraqidah yang lurus. Mengenalkannya pada kehidupan, mengenalkan apa itu cinta dan rasa empati.. Tidak hanya sekadar teori, tapi mengajarkan semuanya dalam bentuk nyata, dalam segala tindak keseharian. Mereka, anak-anak, belajar semua langsung dari guru pertama dan utama, yaitu ibu mereka. Mereka belajar lewat apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Mereka belajar dari apa yang ibu ucapkan dan lakukan.
Ibu adalah madrasah pertama dalam sebuah keluarga. 
Dia yang akan mengajarkan pendidikan agama pertama kali pada anak-anaknya. Lantas akan jadi apa anaknya, jika ibunya-yang menjadi madrasah pertama, tidak bisa mengajarkan kebaikan kepada anaknya.

“The attitude you have as a parent is what your kids will learn from more than what you tell them. They don’t remember what you try to teach them. They remember what you are.” 

Dulu ketika aku belum menyadari ini, aku punya banyak sekali mimpi. Aku ingin mengejar karir sebagai perawat profesional kamar bedah. Selain banyak uang, banyak pengalaman yang mungkin bisa aku dapatkan. Tapi seiring beranjak dewasa, aku mulai mengerti bahwa uang bukanlah segalanya. Mungkin di masa depan aku akan melepas karirku demi fokus pada keluargaku, suami dan anak-anakku. Berat memang menanggalkan semua mimpi-mimpiku, namun tak apa itu memang lebih baik

Baktiku pada suami dan anakku bernilai surga daripada aku mempertahankan diri menjadi wanita karir meski sudah berkeluarga. Aku akan memilih menjadi ibu rumah tangga yang menjamin keperluan rumah terpenuhi. Aku ingin suamiku memakan masakanku setiap hari. Lalu bagaimana kerepotannya aku ketika si sulung cemburu pada adiknya. Bagaimana otak berputar ketika harus masak apa hari ini. Lalu surga terasa lebih dekat ketika kucium punggung tangan suamiku.
Ternyata berkarir tak menjamin hidupku lebih baik. Selain aku melalaikan rumah tangga, bahagia menjadi wanita karir tak sepenuhnya didapat. Semua bernilai satu di dibandingkan mengurus rumah tangga yang bernilai lima. Berkarir juga melelahkan. Meski menjadi ibu rumah tangga pun melelahkan tapi ada nilai ibadah di dalamnya.
Ya pada akhirnya kelak, aku lebih ingin menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku daripada berkarir meninggalkan keluargaku (kelak).
“Setinggi-tingginya pendidikan seorang perempuan, tempatnya adalah di rumah. Sepintar apapun, secantik apapun, sehebat apapun karirnya, perempuan yang baik adalah yang terus belajar untuk menjadikan rumahnya tempat ternyaman bagi suami dan anak-anaknya. Seorang ibu, dengan segala kecakapan memasak, menjahit, mengurus rumah, mengatur keuangan, mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya seperti apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, adalah teladan utama bagi sang anak. Hingga sejauh apapun suami dan anak-anak pergi, rumah dengan segala kehangatannya adalah tempat kembali yang paling mereka rindukan..” 

Bismillah semoga segala niat baikku kelak dimudahkan oleh Allah aamiin..

Jumat, 07 September 2018

Ujian?

Ketika teman teman seumuran sudah banyak yang menikah, banyak orang (termasuk saya) mengeluhkan omongan orang lain yang nyinyir atau mencemooh sebab kita belum menikah di usia segini (26 ke atas lah, yang di bawah itu jangan ikutan galau). Ketika belum mengerti, buat saya dulu hal ini salah satu hal paling menyebalkan dalam hidup. Beberapa orang menilai ini ujian besar.

Setelah sedikit mengerti, meski omongan orang lain tetap menyakitkan, ternyata ini bukan ujian besar. Ujian besar, dan terbesar, adalah ujian tawakkal dan husnudzon pada Allah. Juga ujian keimanan agar tetap berada di jalan yang benar, dalam hal ini mungkin saya belum baik. 

Berapa kali kita mengeluh, sudah berusaha dan muhasabah tapi selalu gagal menikah? Berapa kali kita mulai putus asa dan mengatakan mana ada yang mau sama kita? Semoga keluhan kita hanya berupa noktah untuk mempermanis ujian. Jangan sampai keluhan itu berjalan lebih dalam, menjadi hal yang melemahkan keyakinan kita bahwa setiap takdir Allah pasti baik. Pasti baik!

Ujian terberat dari setiap ujian (bukan hanya terlambat menikah, tapi juga sakit, kesulitan keuangan, musibah) adalah ketika harus bergelut dengan diri sendiri tentang apakah harus berbaik sangka atau berburuk sangka pada Allah Yang Menetapkan Segala Sesuatu. 

Mungkin orang lain akan berkata, “barangkali kamu punya dosa yang harus ditebus di dunia.” Tidak perlu diberitahu, saya (mungkin kita?) sudah lebih tahu daripada orang lain. Kadang - kadang, perasaan berdosa itu menjadikan saya berburuk sangka bahwa Allah membenci saya. 

Lama kelamaan, saya berbaik hati pada diri sendiri, belajar menerima bahwa ujian juga diberikan pada orang - orang yang sudah meminta ampun. Itu ujian, sesederhana itu. Kadang-kadang kita juga perlu berbaik sangka pada diri sendiri, untuk memperingan perjalanan yang beratnya sudah tak terkirakan. Untuk mempertahankan baik sangka pada Allah, bahwa Dia hanya ingin kita belajar bersabar dan bertahan.

Akhirnya, semalam, sekilas saja, saya tidak berani lama-lama. Saya bersyukur bahwa Allah memberikan ujian pada saya yang ketika saya telusuri, semuanya sedang memperbaiki sifat-sifat buruk saya. Pemarah, diuji dengan nyinyiran orang lain sehingga saya belajar menahan diri untuk tidak balik menyakiti meski sudah berniat jahat dalam hati. Buru - buru, diuji dengan lamanya penantian agar saya belajar sabar menunggu. Kurang bersyukur, diuji dengan banyak takdir yang meleset dengan rencana agar saya belajar mengambil hikmah kemudian belajar ridho pada ketetapan-Nya. Sombong, diuji dengan didahului banyak orang lain agar saya belajar rendah hati. Buruk sangka, ditunjukkan dengan kebaikan - kebaikan yang banyak sekali berada di sekitar saya sehingga saya tahu Allah tetap sayang. Allah selalu sayang, dengan ujian dan segala kemudahan yang Dia berikan.

Sungguh, ujian terberat dari sebuah musibah adalah bagaimana mempertahankan tawakkal dan baik sangka pada Yang Menetapkan Musibah. Semoga segala kesulitan menjadi besi yang menempa hati kita semakin kuat, semakin tawakkal, semakin bertauhid, semakin lapang dada, semakin menikmati setiap takdir, semakin mudah bahagia, semakin bersabar menghadapi orang lain yang tak peduli pada hati kita yang sedang diuji.

Kamis, 06 September 2018

Saat Ujub Melanda

Ibnul Qayyim berkata:

“Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal lebih baik daripada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau merasa takjub dan bangga diri, sebab orang yang merasa bangga dengan amalnya tidak kan pernah naik (diterima) amalnya”.

Sungguh saat ini era zaman “show up”. Segala hal yang kita lakukan sehari-hari harus dibeberkan pada publik agar mereka semua tau.

Agar tau bahwa diri ini sudah jalan-jalan kemana saja, di upload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini sudah melakukan apa aja, di upload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini punya ini itu, diupload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini bisa melakukan apa aja, di upload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini sudah makan ini itu, diupload ke media sosial

Saya pun tertegun, bertanya pada diri yang banyak lemahnya, kekurangannya, tidak ada apa-apanya ini. Selama ini, “Tujuan saya untuk apa? Niat saya apa? segala hal saya upload. Agar mereka kagum? memuji? untuk apa? Yang layak dipuji hanya Allah. Lalu diri ini siapa?"

Saya jalan-jalan, nongkrong happy-happy kesana kesini saya upload, mungkin niat kurang baiknya adalah agar semua orang tau saya sudah mengunjungi banyak tempat. Biar saya dibilang kece dan kekinian. Tiap saya masak sesuatu pun, saya foto dan saya upload. Niat tidak baiknya mungkin agar saya dibilang bisa masak.

Saya memperlihatkan apa yang menjadi sudut pandang kebaikan saya, entah apa niat dan tujuan nya. Tidak jarang dengan kita mengupload ini itu, banyak mudaratnya. Tidak sedikit membuat orang lain iri dsb.

Kita terlena dengan indahnya dunia, termasuk saya sendiri. Mengejar reputasi diri sendiri, mengejar pujian.

Astagfirullah :’(

Saya pun perlahan mencoba meninggalkan satu persatu media sosial, FB sudah non aktif, Twitter sudah tutup akun, Path dan instagram juga sudah saya uninstall. Hanya aplikasi semacam whatsapp untuk berkomunikasi.

Karena ketika saya belajar menjauh dari medial sosial, waktu saya lebih banyak digunakan untuk hal yang bermanfaat. Waktu kepo Instagram, bisa saya ganti dengan menghabiskan waktu bersih bersih sembari belajar jadi ibu rumah tangga. Juga halnya chat dengan sederet teman di LINE, bisa saya ganti waktunya dengan belajar memasak, walaupun banyak gagalnya saya mencoba banyak resep, tapi saya tau dan harus yakin, keahlian seseorang dalam bidang apapun tergantung jam terbangnya. Dan alhamdulillah perlahan saya banyak belajar dari “didikan kehidupan”.

Kalau kata Aa Gym “Hidup mah jalani dengan kesederhanaan dan tawadhu. Cukup Allah yang tau. Allah sudah menutupi dosa kita, hinanya diri kita yang tidak orang lain ketahui . Biar amal dan kebaikan kita juga hanya Allah yg tau. Jangan harap pujian manusia, berharaplah pada ridhoNya”.

Semoga perlahan diri ini, diri kita, belajar banyak hal dari didikan kehidupan dunia yang tidak kekal ini.

Segala hal yang kita lakukan semoga dijauhkan dari niat sombong, dan bertujuan untuk dakwah, untuk saling mengingatkan pada kebaikan.
Saya pun juga masih harus banyak belajar. Yuk kital sama-sama belajar :)

Semoga tetap istiqamah pada jalan kebaikan ya :)
- Aamiin..

Maha baik Allah

Aku pernah melakukan begitu banyak dosa. Melakukan hal hal yang tidak Allah sukai. Rambut tergerai panjang tanpa hijab. Aku pernah berpakaian pendek dan  ketat. Aku pernah berpenampilan yang mengundang perhatian banyak orang. Aku pernah berkata kasar.
Ya aku pernah berpenampilan bukan layaknya seorang muslimah. Tapi layaknya seorang perempuan yang tidak takut akan dosa.

Aku menyesal, ketika banyak waktuku yang terbuang untuk mengejar dunia semata.
Berjam jam kuhabiskan waktuku untuk medsos, chatting dengan banyak laki laki, main kesan kesini tanpa takut dosa ikhtilath dan khalwat.
Aku menyesal ketika kuabaikan semua seruan kebaikan yang datang.
Aku menyesal sudah banyak melanggar perintah dari Nya.

Dulu, aku pernah iri dengan mereka yng memiliki wajah cantik, tubuh semampai, kaya, berpakaian modis dan hidup glamour. Sungguh aku iri dengan mereka yng banyak di kagumi dan terlihat sempurna di mata dunia.
Betapa bodohnya aku padahal semua itu hanya sementara. Dan apa apa yang mereka miliki di dunia pun akan sirna. Bahkan orang orang yng mengagumi pun tak akan mampu menolongnya. Jadi untuk apa mati matian mengejar sesuatu yang tidak dapat dibawa mati?

Masalaluku tidak sebaik diriku yang sekarang. Bahkan diriku yng sekarang tidak lebih baik darimu. Sebaik baik diriku, lebih baik dirimu. Seburuk buruk dirimu, masih lebih buruk diriku.
Aku tidak ingin lebih baik dari siapapun. Aku hanya ingin menjadi lebih baik dari diriku yang dulu.

Aku gelisah mengingat begitu banyak dosa yang sudah aku lakukan. Beruntung Allah maha pemaaf. Teringat firman-Nya "Bahwa Allah mencintai orang orang yang bertaubat."

Sungguh maha baik Allah, selalu menutup segala aib ku disaat aku berlumur dosa yang begitu banyak, hingga aku sangat malu ketika manusia lain menganggapku baik. Sungguh, yang maha baik adalah Allah yng menutup rapat semua keburukan dan aibku.

"Jika seandainya dosa dosa itu mengeluarkan bau, maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku." -(Siyaar A'laam An Nubalaa' 6/120)

Sabtu, 11 Agustus 2018

Fashbir shabran jamiila

Al-Maarij ayat 5.
Baru aja dibahas, dan menyadari ada yang perlu ditambahkan. Fashbir shabran jamiila. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.

Sabar aja nggak cukup ya ternyata. Allah katakan, “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” Sabar yang baik, bukan sabar aja.

Gimana sih sabar yang baik itu?
Bukan sabar yang umum ya sepertinya, yang kitanya nahan emosi, atau yang kitanya nahan rasa nggak terima. Sabar yang baik mungkin sabar dengan penuh ikhlas tanpa nggerundel sama sekali. Sabar sepenuhnya dengan ketetapan yang Allah tetapkan untuk kita. Mau pahit, asam, atau pedas kejadiannya, kitanya yakin itu yang terbaik untuk kita. Ada hikmah yang Allah siapkan untuk kita.

Karena yakin ini, respon pertama kali kitanya udah bisa ucap alhamdulillah.
Alhamdulillah alaa kulli hal. Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.
Sabar yang baik langsung dibarengi dengan khusnudzan sama Allah. Dan dibarengi dengan ingat sama Allah. Ingat bahwa andai kata kebaikan yang menghampiri kita, bisa jadi itu adalah bentuk ujian. Yang mana jika kita bersabar dan bersyukur, Insyaa Allah balasannya akan lebih indah nanti.

Jadi, baik atau buruk kejadiannya, tetap harus sabar. Kalau baik gak terlalu senang sehingga nggak menimbulkan iri dengki saudara lain yang nggak dapet kebaikan seperti yang kita dapet. Kalau buruk nggak terlalu sedih karena yakin ada kebaikan di balik yang kita anggap buruk itu, karena terbatas ilmu, kita yang belum faham apa kebaikannya.
Wallahu a’lam bishshawaab.
Semoga Allah bantu kita untuk mengamalkan ayat ini. Aamiin.