Kamis, 06 September 2018

Saat Ujub Melanda

Ibnul Qayyim berkata:

“Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal lebih baik daripada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau merasa takjub dan bangga diri, sebab orang yang merasa bangga dengan amalnya tidak kan pernah naik (diterima) amalnya”.

Sungguh saat ini era zaman “show up”. Segala hal yang kita lakukan sehari-hari harus dibeberkan pada publik agar mereka semua tau.

Agar tau bahwa diri ini sudah jalan-jalan kemana saja, di upload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini sudah melakukan apa aja, di upload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini punya ini itu, diupload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini bisa melakukan apa aja, di upload ke media sosial

Agar tau bahwa diri ini sudah makan ini itu, diupload ke media sosial

Saya pun tertegun, bertanya pada diri yang banyak lemahnya, kekurangannya, tidak ada apa-apanya ini. Selama ini, “Tujuan saya untuk apa? Niat saya apa? segala hal saya upload. Agar mereka kagum? memuji? untuk apa? Yang layak dipuji hanya Allah. Lalu diri ini siapa?"

Saya jalan-jalan, nongkrong happy-happy kesana kesini saya upload, mungkin niat kurang baiknya adalah agar semua orang tau saya sudah mengunjungi banyak tempat. Biar saya dibilang kece dan kekinian. Tiap saya masak sesuatu pun, saya foto dan saya upload. Niat tidak baiknya mungkin agar saya dibilang bisa masak.

Saya memperlihatkan apa yang menjadi sudut pandang kebaikan saya, entah apa niat dan tujuan nya. Tidak jarang dengan kita mengupload ini itu, banyak mudaratnya. Tidak sedikit membuat orang lain iri dsb.

Kita terlena dengan indahnya dunia, termasuk saya sendiri. Mengejar reputasi diri sendiri, mengejar pujian.

Astagfirullah :’(

Saya pun perlahan mencoba meninggalkan satu persatu media sosial, FB sudah non aktif, Twitter sudah tutup akun, Path dan instagram juga sudah saya uninstall. Hanya aplikasi semacam whatsapp untuk berkomunikasi.

Karena ketika saya belajar menjauh dari medial sosial, waktu saya lebih banyak digunakan untuk hal yang bermanfaat. Waktu kepo Instagram, bisa saya ganti dengan menghabiskan waktu bersih bersih sembari belajar jadi ibu rumah tangga. Juga halnya chat dengan sederet teman di LINE, bisa saya ganti waktunya dengan belajar memasak, walaupun banyak gagalnya saya mencoba banyak resep, tapi saya tau dan harus yakin, keahlian seseorang dalam bidang apapun tergantung jam terbangnya. Dan alhamdulillah perlahan saya banyak belajar dari “didikan kehidupan”.

Kalau kata Aa Gym “Hidup mah jalani dengan kesederhanaan dan tawadhu. Cukup Allah yang tau. Allah sudah menutupi dosa kita, hinanya diri kita yang tidak orang lain ketahui . Biar amal dan kebaikan kita juga hanya Allah yg tau. Jangan harap pujian manusia, berharaplah pada ridhoNya”.

Semoga perlahan diri ini, diri kita, belajar banyak hal dari didikan kehidupan dunia yang tidak kekal ini.

Segala hal yang kita lakukan semoga dijauhkan dari niat sombong, dan bertujuan untuk dakwah, untuk saling mengingatkan pada kebaikan.
Saya pun juga masih harus banyak belajar. Yuk kital sama-sama belajar :)

Semoga tetap istiqamah pada jalan kebaikan ya :)
- Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar